biografi iwan fals

Tampilkan postingan dengan label i IwanFalsMania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label i IwanFalsMania. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Manusia Setengah Dewa


Intro : A A

A E F#m C#m
Wahai presiden kami yang baru
D E
Kamu harus dengar suara ini
A E F#m C#m
Suara yang keluar dari dalam goa
D E
Goa yang penuh lumut kebosanan

A E F#m C#m
Walau hidup adalah permainan
D E
Walau hidup adalah hiburan
A E F#m C#m
Tetapi kami tak mau dipermainkan
D E
Dan kami juga bukan hiburan

F#m C#m D E
Turunkan harga secepatnya
F#m C#m D E
Berikan kami pekerjaan
F#m C#m
Pasti kuangkat engkau
D E
Menjadi manusia setengah dewa

Chorus:
A D A E
Masalah moral masalah akhlak
A D E
Biar kami cari sendiri
A D A E
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
A D E
Peraturan yang sehat yang kami mau

F#m C#m D E
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
F#m C#m D E
Adil dan tegas tak pandang bulu
F#m C#m
Pasti kuangkat engkau
D E
Menjadi manusia setengah dewa

Intro : A E F#m C#m D E 2X
Back to Chorus

F#m C#m D E
Turunkan harga secepatnya
F#m C#m D E
Berikan kami pekerjaan
F#m C#m D E
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
F#m C#m D E
Adil dan tegas tak pandang bulu
F#m C#m
Pasti kuangkat engkau
D E
Menjadi manusia setengah dewa

A E F#m C#m
Wahai presiden kami yang baru
D E
Kamu harus dengar suara ini

Iwan Fals-NEGERIKU


Intro : D

G D
Bersih, bersih, bersih, bersihlah negeriku
G D
Malu, malu, malulah hati
A D
Kotornya teramat gawat, ya kotornya sangat
A D
Inilah amanah yang menjadi keramat

Bersih, bersih, bersih, bersihlah diriku
Sebelum menyapu sampah dan debu-debu
Nyanyian berkarat sampai ke liang lahat
Atas nama rakyat yang berwajah pucah

Chorus :
G F#m
Negeriku, negeri para penipu
G A
Terkenal ke segala penjuru
G F#m
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
G A
Inilah sorga, sorganya sorga
G A D
Negeriku, ngeriku

Busuk, busuk, busuk, busuk bangkai tikus
Yang mati karena dihakimi rakyat
Adakah akhirat menerima dirinya
Adakah di sana yang masih bisa bercanda dengan rakus

Chorus

Bersih, bersih, bersih, bersihlah negeriku

Iwan Fals- YANG TERLUPAKAN


Intro : D A Bm A
G D Em G Gm D

D A Bm A
Denting piano kala jemari menari
G D Em G
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Gm D
Saat datang rintik hujan
F#m Bm
bersama sebuah bayang
G A D A G
Yang pernah terlupakan

(*)

D A Bm A
Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
G D Em G
Seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
Gm D F#m Bm
Seperti menjelma waktu aku tertawa
G A D
Kala memberimu dosa

D D/C# Bm A Bm A D
Da..ra O....maafkanlah
A Bm A G
Da..ra O....maafkanlah

Chorus :
D F#m Bm A
Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
D F#m Bm A
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
G Gm D Bm
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
G A D
Namun senyum mu tetap mengikuti

D F#m Bm G F#m Em 2X end A
La la la

Back to : (*)
Int : A Bm A D A Bm G

Senin, 20 Februari 2012

Ujung Aspal Pondok Gede


Iwan Fals – Ujung Aspal Pondok Gede

Intro : G Bm Em D C D G

  G  Bm  Em D      C  D   G

Di kamar ini aku dilahirkan

 G Bm       Em    D           C  D        G

Di bale bambu, buah tangan bapak ku

 G Bm    Em D       C  D   G

Di rumah ini aku dibesarkan

 G Bm      Em  D      C D  G

Dibelai mesra lentik jari ibu

Interlude : G

  G  Bm     Em  D            C    D            G

Nama dusunku ujung aspal pondok gede

   G  Bm            Em  D               C            D        G

Rimbun dan anggun ramah senyum penghuni dusun

Interlude : G Bm Em D C D G 2x

     G  Bm         Em   D        C  D             G

Kambing sembilan, motor tiga bapak punya

  G   Bm        Em  D            C               D     G

Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya

Reff :

Em                               Bm

Sampai saat tanah moyangku

            C                  G        C             Bm     Am

Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota

          C         G            D     G

Terlihat murung wajah pribumi

             C         G               D       G

Terdengar langkah hewan bernyanyi

Interlude : Em Bm C G C G Am C D G

 G  Bm         Em      D             C            D       G

Di depan masjid, samping rumah wakil pak lurah

     G    Bm           Em     D        C       D          G

Tempat dulu kami bermain mengisi cerahnya hari

  G           Bm     Em    D              C               D   G

Namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri

  G        Bm     Em          D         C             D           G

Satu persatu sahabat pergi dan takkan pernah kembali

Balik ke Reff

Coda : G Bm Em D C D G



Lirik dan chord Iwan Fals – Ujung Aspal Pondok Gede berasal dari blogmusikku.blogspot.com

Tarmijah dan Problemnya


Intro : Bm Am Bm Am G F C G F C G

Em G Em G Em G Am G Am G

Bb G Bb G C D G C D G

C G C G

Cerita duka pembantu rumah tangga

C G D G

Harga tarmijah sebulan delapan ribu rupiah

C G C G

Di pagi buta sedang pulas tidur kita

C G D

Neng tarmijah sudah bangun lalu bekerja

G C G C G

Siapkan sarapan, bersihkan halaman

G C D C D G

Siapkan pakaian seragam sekolah untuk anak majikan

Interlude : F C G C G C G C G Am G

C G C G C G D G

Bm Am Bm Am C D G

C G C G

Setelah beres tarmijah dipanggil nyonya

C G D G

Pergi kepasar belanja ini hari

C G C G

Asin sedikit tarmijah dicaci maki

C G D

Masakan lezat tak pernah dipuji

G C G

Oh sudah pasti keki

G C D C D G

Namun hanya disimpan dalam hati

Interlude : C G C G Am G

C G C G

Dimalam minggu anak majikan berdandan

C G D G

Sambut sang pacar itu suatu kewajiban

C G C G

Nona tarmijah tak mau ketinggalan

C G D G

Lalu berdandan siap untuk berkencan

Em Bm

Nyonya majikan lihat tarmijah berkencan

Em Bm

Dimuka rumah terhalang pagar halaman

C G D G

Nyonya naik pitam, tarmijah kena hantam

C G D G

Nyonya naik pitam, tarmijah kena hantam

C G C G

Tarmijah KO, tarmijah KO

Coda : C G D G C G D G D G

Bm Am Bm Am

G C G C DG C G C G

D G D G G D G D G D G

Pulang Kerja



Kucing hutan ibu dan anak berang berang
Tikus salju dan harimau kumbang berwarna coklat
Mereka berkelahi untuk kehidupan
Yang aku rasakan adalah keseimbangan

Kucing hutan lari karena kalah berkelahi
Ibu berang berang pulang kerumah
Kucing hutan bertemu tikus salju
Ibu berang berang bercanda dengan anak anaknya

Karena lapar kucing hutan menerkam tikus salju
Tikus salju malah mendapatkan teman
Kucing hutan yang gagal gagal lagi
Tikus salju biasa saja sudah nasibnya selamat

Dari balik bukit dikaki cemara
Aku melihat mulut harimau berlumuran darah
Kucing hutan yang gagal ia terkapar
Akhirnya mati

Sudah takdir harimau mendatangi berang berang
Tetapi berang berang sudah pulang
Sementara tikus salju entah pergi kemana
Harimau itu kesepian

Aku terkesima
Aku terkesima
Aku terkesima terkesima

Duhai langit
Duhai bumi
Duhai alam raya
Kuserahkan ragaku padamu

Duhai ada
Duhai tiada
Duhai cinta
Ku percaya

Lagu Satu

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglang tenang tenanglah sayang

Tek pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah

Kupu Kupu Hitam Putih

Menunggu matahari terbit
Di musim hujan
Mendung menjadi teman
Ada juga keindahannya

Butir embun yang ada didaun
Bagai intan berlian
Lebih riang ia berkilauan
Karena matahari tertutup awan

Suara burung burung didahan
Nyanyian alam
Bekerja ia mencari makan
Ada juga yang membuat sarang

Iri aku menyaksikan itu
Tapi kutekan aku harus bersyukur
Berguru pada kenyataan
Pada makhluk Tuhan yang katanya tak berakal

Mendung datang lagi
Setelah hangat sebentar
Butir embun hilang
Aku jadi termenung

Mencari pegangan
Mencoba untuk bersandar
Langit makin hitam
Aku jadi berharap pada hujan

Kupu kupu hitam putih
Terbang di sekitarku
Melihat ia menari
Hatiku terpatri

Sepasang merpati
Bercumbu dibalik awan
Kemudian ia turun menukik
Sujud syukur padanya

Kupu Kupu Hitam Putih

Menunggu matahari terbit
Di musim hujan
Mendung menjadi teman
Ada juga keindahannya

Butir embun yang ada didaun
Bagai intan berlian
Lebih riang ia berkilauan
Karena matahari tertutup awan

Suara burung burung didahan
Nyanyian alam
Bekerja ia mencari makan
Ada juga yang membuat sarang

Iri aku menyaksikan itu
Tapi kutekan aku harus bersyukur
Berguru pada kenyataan
Pada makhluk Tuhan yang katanya tak berakal

Mendung datang lagi
Setelah hangat sebentar
Butir embun hilang
Aku jadi termenung

Mencari pegangan
Mencoba untuk bersandar
Langit makin hitam
Aku jadi berharap pada hujan

Kupu kupu hitam putih
Terbang di sekitarku
Melihat ia menari
Hatiku terpatri

Sepasang merpati
Bercumbu dibalik awan
Kemudian ia turun menukik
Sujud syukur padanya

Minggu, 19 Februari 2012

Coretan Di Dinding


Coretan di dinding
Membuat resah
Resah hati pencoret
Mungkin ingin tampil

Tapi lebih resah
Pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok di tiap tempat sampah

Ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh
Coretan dinding kota

Coretan dinding
Terpojok ditempat sampah
Kucing hitam dan penindas
Sama sama resah

Sabtu, 18 Februari 2012

Lagu Buat Penyaksi

Matinya seorang penyaksi
Bukan matinya kesaksian
Tercatat direlung jiwa
Menjadi bara membara

Duka cita terdalam

Hari ini kisahmu abadi
Berbaringlah kawan
Berbaringlah dengan tenang

Matinya seorang wartawan
Bukan matinya kebenaran
Tercatat dengan kata sakti
Menjadi benih yang murni

Duka cita terdalam

Hari ini kisahmu abadi
Berbaringlah kawan
Berbaringlah dengan tenang

Rabu, 15 Februari 2012

Yang Terlupakan

Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan dikesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan

Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda seribu sesal didepan mata
Seperti menjelma waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa

Oh maafkanlah
Oh maafkanlah

Rasa sesal didasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti

Yang Tersendiri

Terhempas ku terjaga
Dari lingkar mimpi
Pada titik sepi

Suaramu terngiang
Menembus khayalku
Yang juga tentangmu

Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau

Bayangmu menghantui
Setiap gerakku
Dan kemauanku

Dahagaku akanmu
Matikan emosi
Juga ambisiku

Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau

Buktikan

Kata kata berbisa
Mulut mulut berbusa
Janji janji bertebaran
Seperti biasa dari atas panggung
Atas nama bangsa

Yang mendengar terpesona
Bahkan ada yang terkesima
Aku pun tergoda
Untuk mengikuti apa yang terjadi
Apakah memang janji hanya janji

Buktikan buktikan
Itu yang di nanti nanti
Buktikan buktikan
Kalau hanya omong
Burung beo pun bisa

Kita hidup sering terancam
Tak ada jaminan keselamatan
Kamu ngomong tentang keamanan
Tapi makin banyak penggusuran

Kita hidup sering terancam
Tak ada jaminan keselamatan
Kamu ngomong tentang kemakmuran
Tapi makin banyak pengangguran

Buktikan buktikan
Itu yang di nanti nanti
Buktikan buktikan
Kalau hanya omong
Burung beo pun bisa

Kata kata berbisa
Mulut mulut berbusa
Janji janji berhamburan
Seolah olah kami ini bodoh
Tak mengerti apa apa
Seolah olah kami ini anak kecil
Yang bisa kau bohongi sesuka hatimu

Buktikan buktikan
Itu yang di nanti nanti
Buktikan buktikan
Kalau hanya omong
Burung beo pun bisa

Buktikan buktikan
Buktikan buktikan
Buktikan buktikan
Buktikan buktikan

Selasa, 14 Februari 2012

Kasacima

Yang aku mau kau tunggu
Janganlah terburu nafsu
Pasti kudatangi kamu
Tak mungkin kau ku kibuli

Kasihku kasih terkasih
Sayangku sayang tersayang
Cintaku cinta tercinta
Manisku manis termanis

Rinduku setengah mati
Kalbuku menggebu-gebu
Mari sini dekat padaku
Kucium kau berulang kali

Hidup ini indah
Berdua semua mudah
Yakinlah melangkah
Jangan lagi gelisah

Kalau kau tak mau menunggu
Aku tak pandai merayu
Percayalah kau padaku
Percaya ya percayalah

Suka dan duka biasa
Cemburu jangan membuta
Senyumlah engkau kekasih
Problema jadi tak perih

Rinduku

Tolong rasakan ungkapan hati
Rasa saling memberi
Agar semakin erat hati kita
Jalani kisah yang ada

Ku tak pernah merasa jemu
Jika kau selalu disampingku
Begitu nyanyian rinduku
Terserah apa katamu

Rambutmu
Matamu
Bibirmu
Ku rindu

Senyummu
Candamu
Tawamu
Ku rindu

Beri aku waktu sedetik lagi
Menatap wajahmu
Esok hari ini atau nanti

Di Ujung Abad

Cerita kuno



Peralihan banyak memakan korban
Sementara segelintir tuan tuan
Tertawa girang

Kekuasaan sudah menjadi tuhan
Pengkhianatan adalah
Panglima perang

Kesetiaan jadi janji murahan
Kisah inilah dongeng tidur
Bayi bayiku

Bertahan hidup
Harus bisa bersikap lembut
Walau hati panas
Bahkan terbakar sekalipun

Keluh kesah ini
Mungkin berguna
Jadikan teman sejati
Dimedan juang

Bisa jadi kita bosan
Tapi kenyataan

Badai datang
Tak bosan-bosan
Waspadalah kawan
Perjuangan masih panjang

Cerita kuno tentang peperangan
Diujung abad menghantui
Setiap orang

Kesetiaan jadi janji murahan
Kisah inilah dongeng tidur
Bayi bayiku

Doa Dalam Sunyi

Angin datang dari mana ?
Merayapi lembah gunung
Ada luka dalam duka
Dilempar kedalam kawah

Memanjat tebing tebing sunyi
Memasuki pintu misteri
Menggores batu batu
Dengan kata sederhana
Dengan doa sederhana

Merenung seperti gunung
Mengurai hidup dari langit
Jejak jejak yang tertinggal
Menyimpan rahasia hidup

Selamat jalan saudaraku
Pergilah bersama nasibmu
Pertemuan dan perpisahan
Dimana awal akhirnya ?
Dimana bedanya ?
Dimana bedanya ?

Doa doa terdengar dalam sunyi
Doa doa terdengar dalam sepi

Doa doa terdengar dalam sunyi
Doa doa terdengar dalam sepi

Doa doa terdengar dalam sunyi
Doa doa terdengar dalam sepi

Doa doa terdengar dalam sunyi
Doa doa terdengar dalam sep

Dihatimu Aku Berlindung

Ketika matahari membakar lautan
Ketika matahari membakar dunia
Ketika matahari membakar diri sendiri

Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung

Ketika badai menghempaskan diriku
Ketika badai menutupi langkahku
Ketika badai mengguncang guncang hidupku

Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung

Ketika bumi ini tak berputar lagi
Ketika malaikat tak berdoa lagi
Ketika aku tak bisa bernyanyi lagi

Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung

Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung


Ketika matahari membakar diri sendiri
Ketika matahari membakar diri sendiri

Dihatimu aku berlindung
Dihatimu aku berlindung

Ketika aku tak bisa bernyanyi lagi
Ketika malaikat tak berdoa lagi

Senin, 13 Februari 2012

Generasi Frustasi

Generasiku banyak yang frustasi
Broken home istilah bule bule luar negeri
Mereka muak lihat papi mami bertengkar
Mereka jijik lihat papi mami selalu keluar

Ada urusan yang tak masuk diakal
Mami sibuk cari bujangan
Papi sibuk cari perawan

Timbang kesal lebih baik aku berhayal
Jadi orang besar seperti Hitler yang tenar
Jadi orang tenar persis Carter juragan kacang

Mata cekung badan persis capung
Tingkah sedikit bingung pikiran mirip mirip orang linglung
Rambut selalu kusut disuruh selalu manggut manggut
Duduk di sudut eh kasihan itu tubuh tinggal tulang sama kentut

Hei mister gelek
Lo tega mata gua kok nggak bisa melek
Hei mister gelek
Duit gopek gua kira cepek
Hei mister gelek
Perut laper ada tape pas gua sikat asem asem
Ndak taunya telek

iklan 2

MySiteSubmit

Generasi Frustasi

Generasiku banyak yang frustasi Broken home istilah bule bule luar negeri Mereka muak lihat papi mami bertengkar Mereka jijik lihat papi mami selalu keluar Ada urusan yang tak masuk diakal Mami sibuk cari bujangan Papi sibuk cari perawan Timbang kesal lebih baik aku berhayal Jadi orang besar seperti Hitler yang tenar Jadi orang tenar persis Carter juragan kacang Mata cekung badan persis capung Tingkah sedikit bingung pikiran mirip mirip orang linglung Rambut selalu kusut disuruh selalu manggut manggut

Jaman Edan Tom Slepe ( Album Canda Dalam Nada 1979 )

Hai teman katanya jaman ini kemajuan Sampai si om gendut dan rambut ubanan Berani berpacaran Dengan pembantunya sampai naik ranjang Ranjang goyang Hai teman katanya jaman ini pembangunan Para tante pun tak mau ketinggalan Mencari pasangan Dengan mahasiswa yang kurang biaya Kuliahnya yang tertunda Kalau ada gadis jaman sekarang Jangan heran kalau tidak perawan Para pelajar pun jadi edan edanan Kalau pusing belajar cari hiburan Di tempat pelacuran Oh oh oh we yo Jaman edan Jaman jaman edan Jaman saiki jaman edan Sampeyan edan aku melok edan Ini ramalan dari nenek moyang Jayabaya yang kelahiran Bengawan Hai teman di jaman ini memang banyak penipuan dan pengangguran Terpaksa Yance Mince berjualan Daging karet tiruan Oh di taman Lawang demi kepuasan Hidung belang Hai teman jangan sampai kita pun ketinggalan Cepat cepat kau cari kesempatan Di dalam kesempitan Untuk melemaskan segala ketegangan Oh pikiran yang bukan bukan Suatu kali eh pernah aku kehilangan Celana Levi’s yang semata wayang Itu juga belinya di tukang loakan Telah hilang melayang disamber orang Waktu di jemuran Oh oh oh we yo Maling sialan Maling maling sialan Dia nggak pikir itu barang orang Ada lagi maling gede gedean Dia nekat embat duit ‘jut - ‘jutan Dia nggak mikir itu duit haram Inget inget dong sama gelandangan Berani amat ente sama kutukan Tuhan Maling yang ini memang kebangetan Ada maling hoi maling jemuran Di sono maling di sini maling Maling maling hei elu sialan

Orang Gila

Orang Gila
Waktu pulang Malam malam Sendiri Sendiri Orang gila di lampu penyeberangan Jam dua malam Lewat pada saat lampu sedang merah Tepat ditengah tengah zebra cross Irama langkahnya tidak berubah Seperti lagu lama Yang aku dengar menuju pulang Sendirian Orang gila di lampu penyeberangan Rambutnya gimbal Kumis dan jenggotnya jarang jarang Membawa gembolan Entah gombalan Atau makanan Melangkah terus lurus kedepan Melangkah terus lurus kedepan Orang gila di lampu penyeberangan Apa kabar? Siapa yang menyapa kamu diam Tersenyum tidak menangis tidak Kamu sapa siapa saja Selamat malam Selamat malam Orang gila di lampu penyeberangan Orang gila di lampu penyeberangan Melangkah terus lurus kedepan Melangkah terus lurus kedepan Kamu sapa siapa saja Selamat malam Selamat malam

Aku Berjalan Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)

Aku Berjalan Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)
Aku berjalan diatas jembatan Waktu hari siang Tengah keramaian kota Kupandang kebawah Berhimpit gubuk liar Tempat tinggal gelandangan Tampak anak kecil gundul Tenang menggaruk koreng Ditepi sungai yang kotor Diseberang sana aku melihat Seorang ibu duduk Sedang melamun Kan adakah masa depan yang cerah? Bagi orang seperti dia Kan tegakah melihat saudara kita? Hidup menderita

Pemborong Jalan Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)

Pemborong Jalan Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)
Deru mesin motor jelas terdengar Mengarung jalan penuh lubang Baru kemarin selesai diaspal Terkena hujan kok jerawatan? Oh oh kasihan Bayar pajak mahal Banyak jalan Seperti comberan Pemborong berpengalaman tertawa Berteman pipa topi baja Bercanda dengan istri paling mudah Tak ingat jalan dan pekerja Oh oh kasihan Nasib pekerja jalan Tenaga hilang Gaji tidak berimbang

Bencana Alam Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)

Bencana Alam Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)
Sekian manusia resah menatap wajah sesamanya Duka karena bencana Petaka menimpa diri dan dalam hatinya berkata Besarkah dosa hamba ? Menjelang saat ajal daku membayang Gapai tangan minta Tolong semua Bencana alam melandanya Kehendak yang kuasa Peringatan kah bagi kita ? Manusia di dunia Karena kita tlah saling cinta harta benda dan kuasa Tanpa pandang kebenaran Dan tanpa pandang keadilan Bencana alam melandanya Tiada seorangpun kuasa menekan Bencana alam melandanya Miskin kaya kana petaka yang sama Akhirnya ku merenung pula Mengapa bencana alam meraja ? Oh oh aku tak kuasa Mungkinkah kau merenung juga ? Mengapa bencana alam meraja ? Oh oh ampunilah yang kuasa Oh oh ampunilah semua

HATTA

HATTA
Hatta Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981) Tuhan terlalu cepat semua Kau panggil satu satunya yang tersisa Proklamator tercinta Jujur lugu dan bijaksana Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa Rakyat Indonesia Hujan air mata dari pelosok negeri Saat melepas engkau pergi Berjuta kepala tertunduk haru Terlintas nama seorang sahabat Yang tak lepas dari namamu Terbayang baktimu Terbayang jasamu Terbayang jelas jiwa sederhanamu Bernisan bangga Berkafan doa Dari kami yang merindukan orang Sepertimu .

Doa Pengobral Dosa Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)

Doa Pengobral Dosa Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)
Disudut dekat gerbong Yang tak terpakai Perempuan ber make up tebal Dengan rokok ditangan Menunggu tamunya datang Terpisah dari ramai Berteman nyamuk nakal Dan segumpal harapan Kapankah datang Tuan berkantong tebal Habis berbatang batang Tuan belum datang Dalam hati Resah menjerit bimbang Apakah esok hari Anak anakku dapat makan Oh Tuhan beri Setetes rezeki Dalam hati yang bimbang berdoa Beri terang jalan anak hamba Kabulkanlah Tuhan

Galang Rambu Anarki Iwan Fals ( Album Opini 1982 )

Galang Rambu Anarki Iwan Fals ( Album Opini 1982 )
Galang Rambu Anarki anakku Lahir awal Januari Menjelang pemilu Galang Rambu Anarki dengarlah Terompet tahun baru Menyambutmu Galang Rambu Anarki ingatlah Tangisan pertamamu Ditandai BBM membumbung tinggi Maafkan kedua orang tuamu kalau (Tak mampu beli susu) BBM naik tinggi (susu tak terbeli) Orang pintar tarik subsidi Mungkin bayi kurang gizi Galang Rambu Anarki anakku Cepatlah besar matahariku Menangis yang keras janganlah ragu Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku Doa kami di nadimu Galang Rambu Anarki dengarlah Terompet tahun baru Menyambutmu Galang Rambu Anarki ingatlah Tangisan pertamamu Ditandai BBM melambung tinggi Maafkan kedua orang tuamu kalau (Tak mampu beli susu) BBM naik tinggi (susu tak terbeli) Orang pintar tarik subsidi Anak kami kurang gizi Galang Rambu Anarki anakku Cepatlah besar matahariku Menangis yang keras janganlah ragu Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku Doa kami di nadimu Cepatlah besar matahariku Menangis yang keras janganlah ragu Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku Doa kami di nadimu

ancur

ancur
Iwan Fals / Aziz MS ( Album In Collaboration With 2003 ) Namamu selalu kubisiki Dalam tidurku dalam mimpiku Setiap malam Hangat tubuhmu melekat di kulitku Beribu peluk beribu cium Kita lalui Tapi kau kabur Dengan duda anak tiga Pilihan ibumu Hatiku hancur Berserakan berhamburan Kayak jeroannya binatang Ya sudah Kumenangis seadanya Sekuat tenaga Ya sudahlah Kau memang setan alas Nggak punya perasaan ANCUUU UUUR Doaku di akad nikahmu Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus Tapi kau kabur Dengan duda anak tiga Pilihan ibumu Hatiku hancur Berserakan berhamburan Kayak jeroannya binatang Ya sudah Kumenangis seadanya Sekuat tenaga Ya sudahlah Ya sudah Kumenangis seadanya Sekuat tenaga Ya sudahlah Kau memang “syaiton” alas Ndak punya perasaan ANCUUU UUUR Doaku di akad nikahmu Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus Heh heh heh heh heh

Jalan Yang Panjang Berliku Iwan Fals / Willy & Tommy ( Album Barang Antik 1984 )

Jalan Yang Panjang Berliku Iwan Fals / Willy & Tommy ( Album Barang Antik 1984 )
Jalan panjang yang berliku Jalan lusuh dan berbatu Namun kuharus mampu menempuh Bersama beban dibatinku Kudatang berlumur debu Kupergi bersama bayu Diantara gelisah dan ragu Kucoba untuk tetap kukuh Tiadakah tempat kuberteduh Dikala luka membiru Segenggam harapan dalam jiwa Hilang punah tiada kesan Dikegelapan

Doa Pengobral Dosa Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)

Doa Pengobral Dosa Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)
Disudut dekat gerbong Yang tak terpakai Perempuan ber make up tebal Dengan rokok ditangan Menunggu tamunya datang Terpisah dari ramai Berteman nyamuk nakal Dan segumpal harapan Kapankah datang Tuan berkantong tebal Habis berbatang batang Tuan belum datang Dalam hati Resah menjerit bimbang Apakah esok hari Anak anakku dapat makan Oh Tuhan beri Setetes rezeki Dalam hati yang bimbang berdoa Beri terang jalan anak hamba Kabulkanlah Tuhan

Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)




Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram

Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkerammu

Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh karisma

Pulau pulau yang berbencar
Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Hei jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti

Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan pancasila itu
Bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan