Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN LIRIK LAGU IWAN FALS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN LIRIK LAGU IWAN FALS. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Januari 2012
Puisi Gelap
Iwan Fals & Jabo (Album Orang Gila 1994)
Langit gelap
Jutaan gagak hitam memenuhi langit
Datang dari goa goa yang gelap dan lembab
Dari padang yang kering tandus
Merentang sayap berputar putar mengerikan
Suaranya melengking menyayat
Amarah yang terpendam amarah tertahan
Gentayangan bagai mayat bangun dari kuburan
Karena mereka pun tak mau menerima
Gerhana matahari gerhana hidup
Mereka menutupi cahaya matahari
Memakan bangkai dari apa saja yang tersisa
Hinggap diatas tanah diatap rumah
Di dahan dahan pohon yang mati kering
Mengintai mangsa
Menanti bangkai temannya sendiri yang mati kelaparan
Bau bangkai menyengat dimana mana
Saling menerkam diantara mereka sendiri
Sekedar bertahan dari kematian yang segera datang menjemput
Tak ada cahaya matahari
Tak ada cahaya kehidupan
Tak ada apa apa
Hanya ada ketegangan dan keganasan
Ketegangan yang mengandung bencana
Gagak gagak terus berputar semakin banyak
Marah pada apa ?
Marah pada siapa ?
Marah pada marah yang tak terlampiaskan
Sampai pada saatnya nanti
Mereka jatuh terkapar dan mati
Tapi dimana cahaya kehidupan ?
Tak ada yang tahu
Hanya ada jutaan bangkai gagak
Berserakan berbau amis dan busuk
Ah
Bau busuk kehidupan
Menyusup menebar ke sudut sudut kota
Dan kita menghisapnya
Apakah Aku Benar-Benar Memiliki Kamu - Iwan fals
Telah kuberikan semua yang ada didalam jiwa
Tak tersisa walau sekecil debu
Ku ikhlaskan goresan rasa namun kata yang indah
Selalu berlabuh di tempat yang salah
Hari sepi menikam dalam
Tak adakah secercah harapan
Biduk cinta yang hampir karam coba aku tahan
Sempat goyah sempat aku bosan
Hasrat hati yang kini terganggu oleh rasa ragu
Kemanakah rindu yang kemarin
Ungkapkanlah isi hatimu
Jangan pernah berpaling dariku
Tunjukkanlah rasa cintamu
Jangan sampai aku bertanya
Apakah aku benar-benar memiliki
Apakah aku benar-benar memiliki
Kamu
Sabtu, 07 Januari 2012
Bunga trotoar
Bunga bunga kehidupan
Tumbuh subur di trotoar
Mekar liar dimana mana
Langkah langkah garang datang
Hancurkan wanginya kembang
Engkau diam tak berdaya
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Menggelar aneka barang
Menggelar mimpi yang panjang
Kaki lima menggelar resah
Diemperan toko besar
Koar mulutmu berkobar
Kaki lima makin menjalar
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Bagai jutaan srigala
Menyerbu kota besar
Tempat asal adalah neraka
Tolong beri tahu aku
Bagaimana caranya ?
Nasib tak pernah berpihak
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Bungaku
Bunga liar
Bungaku
Bunga trotoar
Ya liar
Bunga trotoar
Liar liar liar liar
Bungaku bungaku bungaku
Bunga trotoar
Bunga liar
Bunga liar
Bunga liar
Para kurcaci diinjak mati
Para kurcaca nyanyi tralala
Para kurcaci bersedih hati
Para kurcaca ha ha ha ha ha ha
Para kurcaci diinjak mati
Para kurcaca nyanyi tralala
Para kurcaci bersedih hati
Para kurcaca ha ha ha ha ha ha
Pada Batu Dalam Diam (feat. Harry Suliztiarto) oleh: Iwan Fals
Ketamakan membius jalan hatiku
Ribuan tegak batu bangkitkan geram
Kurasakan betapa angkuh diriku
Dari beku cengkeramku
Getar ujung pijakku
Hampir tak ku kenali diriku
Keberanian terasa sangat menyiksa
Dasar jurang mengusik mata langkahku
Kusaksikan betapa rapuh jiwaku
Dari beku cengkeramku
Getar ujung pijakku
Hampir tak ku kenali diriku
Ya aku di puncak ini
Terikat pada batu
Hampir tak kulihat apa-apa
Kesabaran membasuh hari-hariku
Hitamnya batu hitam dasar sukmaku
Kurasakan kuasaMu dalam diam
Dari beku cengkeramku
Getar ujung pijakku
Hampir tak ku kenali diriku
Sapuku Sapumu Sapu Sapu
Tukang sapu kuli PU besar jasamu
Oh kawan
Dengan sapu ganyang sampah dan debu
Tuk sesuap makan
Hari panas hari hujan memang tantangan
Siapa bilang bukan
Namun tugas tetap jalan absen gaji melayang
Maklum kuli harian
Pernahkah tuan pikirkan
Jasa mereka
Pernahkah tuan renungkan
Harga keringatnya
Tukang sapu bawa sapu masuk di kantor
Bersihkan yang kotor
Cukong kotor mandor koruptor semua yang kotor
Awas kena sensor
Tukang sapu bawa sapu juga disapu
Kok bisa begitu
Istri iri lihat tetangga punya barang baru
Akupun begitu
Inilah manusia
Dengan segala macam warna hidupnya
Tuk mencapai bahagia
Semua jalan ditempuhnya
Selasa, 03 Januari 2012
Dimata Air Tidak Ada Air Mata
Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Di hembus angin terseret arus
Untuk saudara tercinta
Untuk Jiwa yang terluka
Tengah lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan denting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tau tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi
Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerkam
Kubernyanyi di matahari
Kupetik gitar di rembulan
Di balik bening mata air
Tak pernah ada air mata
Engkau Tetap Sahabatku:
Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu...datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi
Untuk berlari lagi
Dia adalah yang terbuang...mengetuk pintuku
Penuh luka dipunggungnya...merah hitam
Dia menjadi terbuang....setelah harapannya....
dibuang.....
Bapaknya pegawai kecil....sandal jepit
yang kini di dalam penjara...sedang bela anaknya
Lyrics www.allthelyrics.com/lyrics/fals_iwan/
Untuk darah daging yang tercinta
Selesaikan sekolah
Sahabatku...coba mencari kerja
Namun yang didapat cemooh
Harga dirinya berontak
Lalu dia tetapkan hati
Hancurkan sang pembuang
Air putih aku hidangkan...aku dipersimpangan
Seribu bahkan lebih..sejuta lebih
Pagi buta dia berangkat...diam-diam
Masih sempat selimuti aku....yang tertidur
Aku terharu...doaku untukmu
Sebutir peluru yang tinggal dibawah bantalnya
Bertali jadikan kalung lalu kukenakan
yang terus berlalu
Selamat jalan kawan...
Selamat menari air mata
Hei...sahabat yang terbuang
Engkau sahabatku....tetap sahabatku
Senin, 02 Januari 2012
Siang di seberang sebuah istana.
Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang istana sang raja
Reff I:
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata....... Yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada
Reff II:
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau.... Tak terasa terganggu
Kembali ke: reff I & reff II
Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Di raihnya mimpi di genggam tak di letakkan...
Lagi...
Jumat, 30 Desember 2011
Negeriku
Bersih bersih bersih bersihlah negeriku
Malu malu malu malulah hati
Kotornya teramat gawat ya kotornya sangat
Inilah amanat yang menjadi keramat
Bersih bersih bersih bersihlah diri
Sebelum menyapu sampah dan debu debu
Nyanyian berkarat sampai ke liang lahat
Atas nama rakyat yang berwajah pucat
Negeriku negeri para penipu
Terkenal kesegala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga sorganya sorga
Negeriku ngeriku
Busuk busuk busuk busuk bangkai tikus
Yang mati karena dihakimi rakyat
Adakah akhirat menerima dirinya
Adakah disana yang masih bisa bercanda dengan rakus
Negeriku negeri para penipu
Terkenal kesegala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga sorganya sorga
Negeriku ngeriku
Bersih bersih bersih bersihlah negeriku
Malu malu malu malulah hati
Kotornya teramat gawat ya kotornya sangat
Inilah amanat yang menjadi keramat
Bersih bersih bersih bersihlah diri
Sebelum menyapu sampah dan debu debu
Nyanyian berkarat sampai ke liang lahat
Atas nama rakyat yang berwajah pucat
Negeriku negeri para penipu
Terkenal kesegala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga sorganya sorga
Negeriku ngeriku
Busuk busuk busuk busuk bangkai tikus
Yang mati karena dihakimi rakyat
Adakah akhirat menerima dirinya
Adakah disana yang masih bisa bercanda dengan rakus
Negeriku negeri para penipu
Terkenal kesegala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga sorganya sorga
Negeriku ngeriku
Bersih bersih bersih bersihlah negeriku
Ibu
Intro : Em Em C Am Em
#
Em C Em
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
C Am Em Em
Lewati rintang untuk aku anakmu
Em C Em
Ibuku sayang masih terus berjalan
C Am Em
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
G Am
Seperti udara…
C Em
Kasih yang engkau berikan
G Am
Tak mampu ku membalas
Am
Ibu… Ibu…
Intro : Em Em C Am Em
Em
Ingin kudekat
C Em
Dan menangis di pangkuanmu
C Am
Sampai aku tertidur
Em
Bagai masa kecil dulu
G Am
Lalu doa-doa
C Em
baluri sekujur tubuhku
G Am
Dengan apa membalas
Am
Ibu… Ibu…
Kamis, 29 Desember 2011
Barong! Aku Bento - Kantata Barock
Iwan Fals. Setiawan Djody. Sawung Jabo
Barong! Aku Bento - Kantata Barock
Namaku Barong, rumahku langit
Hidup berjuang, memburu belantara
Aku mau jujur, kucari hidup
Ayo... oh Bento, Barong belantara!
Ooh...ooh... memburu harmoni cinta
Ooh...ooh... ayo... menggelinding... berjuang!
Berani jantan, sadar berontak
Sekali lirik kau jatuh cinta
Bisnisku berjuang
Lawan apa saja yang penting
Aku menang kucing senang kurcari kenyang
Persetan tikus politik, protes!
Karena ku selalu setia dengan cinta...oooh...oooh..
Memburu doa, Barong merapi
Aku Bento, Oh Barong Maridjan
Mengoceh kebenaran
Khotbah keadilan, sarapan hariku
Aksi kucing lapar
Makan apa saja...ooh jagonya
Maling papan atas, bandit kelas tikus
Itu mangsa kucing!
Siapa mau ikut berjuang?
Bongkar sarang tikus
Aku Bento, Barong belantara
Aku Bento, kucing gungu! Ayo makan tikus
Barong Marijan, cinta belantara... Ooh... Ooh... Ooh... Oooh
Aku Bento, kucing gunung! Ayo makan tikus!
Barong Maridjan, cinta belantara... Ooh.. Ooh.. Ooh... Ooh
Merapiku murka!
Barong! Aku Bento - Kantata Barock
Namaku Barong, rumahku langit
Hidup berjuang, memburu belantara
Aku mau jujur, kucari hidup
Ayo... oh Bento, Barong belantara!
Ooh...ooh... memburu harmoni cinta
Ooh...ooh... ayo... menggelinding... berjuang!
Berani jantan, sadar berontak
Sekali lirik kau jatuh cinta
Bisnisku berjuang
Lawan apa saja yang penting
Aku menang kucing senang kurcari kenyang
Persetan tikus politik, protes!
Karena ku selalu setia dengan cinta...oooh...oooh..
Memburu doa, Barong merapi
Aku Bento, Oh Barong Maridjan
Mengoceh kebenaran
Khotbah keadilan, sarapan hariku
Aksi kucing lapar
Makan apa saja...ooh jagonya
Maling papan atas, bandit kelas tikus
Itu mangsa kucing!
Siapa mau ikut berjuang?
Bongkar sarang tikus
Aku Bento, Barong belantara
Aku Bento, kucing gungu! Ayo makan tikus
Barong Marijan, cinta belantara... Ooh... Ooh... Ooh... Oooh
Aku Bento, kucing gunung! Ayo makan tikus!
Barong Maridjan, cinta belantara... Ooh.. Ooh.. Ooh... Ooh
Merapiku murka!
Rabu, 28 Desember 2011
Ombak - Kantata Barock
Kemarin kita bicara
Ada ombak yang mengajak bercinta
Namun kau terlanjur pergi
Tapi tetaplah jejak kata kata itu
Aku kagum menyaksikannya
Terasa begitu luas dan dalam
Anginkah yang membuatmu bergelora
Samudraku nyanyian bersama
*Masih jelas masih terkenang kenang
Umurmu ribuan abad membayang
Dan gemuruhpun menyemangati aku
Engkaulah daya hidup ini
Riwayatkan ini pada anak cucu
Ada ombak yang memanggil manggil
Karang tenang tetap tak bergeming
Ulurkan tanganmu ayo kita berenang
*Lihatlah samudra membentang
Sejauh mata memandang
Jutaan orang yang meradang
Nyanyian samudra menerjang
Dengarkanlah senda gurau mereka
Ketika pulang pulang atau mau berangkat berlayar
Dengarkanlah doa penuh harapan
Dari mereka yang lapar dan tetap sabar
*Bergerak wahai saudaraku
Yang keasyikan menikmati waktu
Ombak itu terus memanggil manggil
Masih jugakah kau tidak terpanggil
*Masih jelas masih terkenang kenang
Umurmu ribuan abad membayang
Dan gemuruhpun menyemangati aku
Engkaulah daya hidup ini
*Lihatlah samudra membentang
Sejauh mata memandang
Jutaan orang yang meradang
Nyanyian samudra menerjang
*Bergeraklah wahai saudaraku
Yang keasyikan menikmati waktu
Ombak itu terus memanggil manggil
Masih jugakah kau tidak terpanggil
Ombak itu terus memanggil manggil
Masih jugakah kau tidak terpanggil
Ada ombak yang mengajak bercinta
Namun kau terlanjur pergi
Tapi tetaplah jejak kata kata itu
Aku kagum menyaksikannya
Terasa begitu luas dan dalam
Anginkah yang membuatmu bergelora
Samudraku nyanyian bersama
*Masih jelas masih terkenang kenang
Umurmu ribuan abad membayang
Dan gemuruhpun menyemangati aku
Engkaulah daya hidup ini
Riwayatkan ini pada anak cucu
Ada ombak yang memanggil manggil
Karang tenang tetap tak bergeming
Ulurkan tanganmu ayo kita berenang
*Lihatlah samudra membentang
Sejauh mata memandang
Jutaan orang yang meradang
Nyanyian samudra menerjang
Dengarkanlah senda gurau mereka
Ketika pulang pulang atau mau berangkat berlayar
Dengarkanlah doa penuh harapan
Dari mereka yang lapar dan tetap sabar
*Bergerak wahai saudaraku
Yang keasyikan menikmati waktu
Ombak itu terus memanggil manggil
Masih jugakah kau tidak terpanggil
*Masih jelas masih terkenang kenang
Umurmu ribuan abad membayang
Dan gemuruhpun menyemangati aku
Engkaulah daya hidup ini
*Lihatlah samudra membentang
Sejauh mata memandang
Jutaan orang yang meradang
Nyanyian samudra menerjang
*Bergeraklah wahai saudaraku
Yang keasyikan menikmati waktu
Ombak itu terus memanggil manggil
Masih jugakah kau tidak terpanggil
Ombak itu terus memanggil manggil
Masih jugakah kau tidak terpanggil
Warijem Dan Tukiman
Ini kisah percintaan asli
Antara Tukiman dan Warijem
Status Warijem perawan sexy yang merangsang
Status Tukiman duda bulukan yang serampangan
Cinta mereka bersemi
Dibawah jembatan Semanggi
Disaksikan dengus mesin
Yang melintas diatas kepala
Senyum Warijem tak pernah hilang tebuang
Senyum Tukiman dibalik kumis melintang
Cinta mereka bersemi
Di dinding nurani Semanggi
Bulan bintang
Dingin malam
Desir angin
Lampu taman
Saksikan Warijem
Saksikan Tukiman
Warijem Tukiman
Disaksikan malam
Saksikan Warijem
Saksikan Tukiman
Warijem Tukiman
Disaksikan malam
Sayang cinta kasih mereka
Tak dapat dilanjutkan
Sebab sepasukan hansip keburu turun tangan
Tukiman Warijem diseret kemanan
Karena ketahuan main gelut-gelutan
Di rerumputan...........
Antara Tukiman dan Warijem
Status Warijem perawan sexy yang merangsang
Status Tukiman duda bulukan yang serampangan
Cinta mereka bersemi
Dibawah jembatan Semanggi
Disaksikan dengus mesin
Yang melintas diatas kepala
Senyum Warijem tak pernah hilang tebuang
Senyum Tukiman dibalik kumis melintang
Cinta mereka bersemi
Di dinding nurani Semanggi
Bulan bintang
Dingin malam
Desir angin
Lampu taman
Saksikan Warijem
Saksikan Tukiman
Warijem Tukiman
Disaksikan malam
Saksikan Warijem
Saksikan Tukiman
Warijem Tukiman
Disaksikan malam
Sayang cinta kasih mereka
Tak dapat dilanjutkan
Sebab sepasukan hansip keburu turun tangan
Tukiman Warijem diseret kemanan
Karena ketahuan main gelut-gelutan
Di rerumputan...........
Jumat, 23 Desember 2011
Ijinkan Aku Menyayangimu
Intro : F#m C#m F#m E 2X
F#m C#m
Andai kau ijinkan, walau sekejap memandang
F#m E
Kubuktikan padamu, aku memiliki rasa
F#m C#m
* Cinta yang kupendam, tak sempat aku tanyakan
F#M E
Karena kau t’lah memilih, menutup pintu hatimu
D
Ijinkan aku membuktikan
C#m
Inilah sesungguhnya rasa
F#m D E
Ijinkan aku menyayangimu
Reff:
A F#m
Sayangku… oh… oh…
D E
Dengarkanlah isi hatiku
A F#m
Cintaku… oh… oh…
D G E
Dengarkanlah isi hatiku
Int: D C#m F#m E
Back to *, Reff
Int: A D F#m E (2x)
D
** Bila cinta tak menyatukan kita
C#m
Bila kita tak mungkin bersama
G E
Ijinkan aku tetap menyayangimu
Back to Reff, Coda
Coda
D C#m
Aku sayang padamu
D A
Ijinkan aku membuktikan
Galang rambu anarki
Lirik Lagu
- Iwan Fals Cord - Chor - Kord Gitar
Intro : A D A
E A
A D A E A
Galang rambu anarki anakku
D A E A
Lahir awal januari menjelang pemilu
A D A E A
Galang rambu anarki dengarlah
D A E A
Terompet tahun baru menyambutmu
E A…
A D A E A
Galang rambu anarki ingatlah
D A E D
Tangisan pertamamu ditandai bbm
E A
Membumbung tinggi (melambung)
Reff
E
Maafkan kedua orangtuamu
D E A
Kalau tak mampu beli susu
D A
Bbm naik tinggi
E A
Susu tak terbeli
D A
orang pintar tarik subsidi
E A
Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)
A D A E A
Galang rambu anarki anakku
A C#m D E
Cepatlah besar matahariku
F#m E D7 E
Menangis yang keras, janganlah ragu
A C#m D E
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
F#m E A
Doa kami di nadimu
Int. D E F#m E
D A G F#m F E A
G F#m F E A
E A E A
Untuk teman-teman yang kepingin ngga usah nyari liri
Rabu, 21 Desember 2011
Coretan Dinding
Chord = A C D / A C D C G A
D C A D
D C A F E C A
Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tepi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan di dinding adalah pemberontakan
Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah
Ditiap kota . . . . .
Cakarnya siap dengan kuku-kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah
Apakah Aku Benar-benar Memiliki Kamu
Intro = Am G F 2X
Am G F E 2X
Am G F E
Tlah ku berikan semua yang ada di dalam jiwa
Am G F E
Tak tersisa walau sekecil debu
Am G F E
Ku ikhlaskan goresan rasa namun kata yang indah
Am G F E
Slalu berlabu di tempat yang salah
Am G F E
Hari sepi menikam dalam
Am G F
Tak adakah secercah harapan
Bridge = Am G F
Hidup cinta yang hampir karam coba aku tahan
Sempat goyah sempat aku bosan
Hasrat hati yang kini terganggu oleh sara ragu
Kemanakah rindu yang kemarin
Reff:
Am G F E
Ungkapkanlah isi hatimu
Jangan pernah berpaling dariku
Tunjukkanlah rasa cintamu
Jangan sampai aku bertanya
Apakah aku benar-benar memiliki…
Senin, 19 Desember 2011
Di Mata Air Tidak Ada Air Mata
(16 votes, average: 4.50 out of 5)
Intro : G G/F# C
G D
Memetik gitar dan bernyanyi
Am Em
Pada waktu tak bertepi
C G
Di atas langit di bawah tanah
C D
Di hembus angin terseret arus
Am Em
Untuk saudara tercinta
C D G
Untuk Jiwa yang terluka
G D
Dengar lagu suaraku hilang
Am Em
Sebab hari semakin bising
C G
Hanya bunyi peluru di udara
C D
Gantikan denting gitarku
Am Em
Mengoyak paksa nurani
C D G
Jauhkan jarak pandangku
G C
Chorus:
G D
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
C D G
Walau aku tau tak terdengar
G D
Jariku menari tetap takkan berhenti
C D
Sampai wajah tak murung lagi
Intro : G G/F# C
G D C 2X
G D
Amarah sempat dalam dada
Am Em
Namun akalku menerkam
C G
Kubernyanyi di matahari
C D
Kupetik gitar di rembulan
Am Em
Di balik bening mata air
C D G
Tak pernah ada air mata
Am Em
Di balik bening mata air
C D G
Tak pernah ada air mata
end : G C D
Buktikan
(3 votes, average: 4.33 out of 5)
Intro : A
A
Kata-kata berbisa, mulut-mulut berbusa
A
Janji-janji bertebaran
Em A
Seperti biasa dari atas panggung atas nama bangsa
A
Yang mendengar terpeona bahkan ada yang terkesima
Em
Akupun tergoda untuk mengikuti apa yang terjadi
A
Apakah memang janji hanya janji
Reff :
A Em A
Buktikan, buktikan itu yang dinanti-nanti
A Em
Buktikan, buktikan kalau hanya omong
D E A
Burun beo pun bisa,.,
Intro : A
Em A
Kita hidup sering terancam
Em A
Tak ada jaminan keselamatan
Em A
Kamu ngomong tentang keaman
D A
Tapi makin banyak penggusuran
Em A
Kita hidup sering terancam
Em A
Tak ada jaminan keselamatan
Em A
kamu ngomong tentang kemakmuran
D A
Tapi makin banyak pengangguran
A
Kata-kata berbisa, mulut-mulut berbusa
A
Janji-janji berhamburan
Em A
Seolah-olah kami ini bodoh tak mengerti apa-apa
Em
Seolah-olah kami ini anak kecil
A
Yang bisa kau bohongi sesuka hatimu
Langganan:
Postingan (Atom)
Generasi Frustasi
Generasiku banyak yang frustasi
Broken home istilah bule bule luar negeri
Mereka muak lihat papi mami bertengkar
Mereka jijik lihat papi mami selalu keluar
Ada urusan yang tak masuk diakal
Mami sibuk cari bujangan
Papi sibuk cari perawan
Timbang kesal lebih baik aku berhayal
Jadi orang besar seperti Hitler yang tenar
Jadi orang tenar persis Carter juragan kacang
Mata cekung badan persis capung
Tingkah sedikit bingung pikiran mirip mirip orang linglung
Rambut selalu kusut disuruh selalu manggut manggut
Jaman Edan Tom Slepe ( Album Canda Dalam Nada 1979 )
Hai teman katanya jaman ini kemajuan
Sampai si om gendut dan rambut ubanan
Berani berpacaran
Dengan pembantunya sampai naik ranjang
Ranjang goyang
Hai teman katanya jaman ini pembangunan
Para tante pun tak mau ketinggalan
Mencari pasangan
Dengan mahasiswa yang kurang biaya
Kuliahnya yang tertunda
Kalau ada gadis jaman sekarang
Jangan heran kalau tidak perawan
Para pelajar pun jadi edan edanan
Kalau pusing belajar cari hiburan
Di tempat pelacuran
Oh oh oh we yo
Jaman edan
Jaman jaman edan
Jaman saiki jaman edan
Sampeyan edan aku melok edan
Ini ramalan dari nenek moyang
Jayabaya yang kelahiran Bengawan
Hai teman di jaman ini memang banyak penipuan dan pengangguran
Terpaksa Yance Mince berjualan
Daging karet tiruan
Oh di taman Lawang demi kepuasan
Hidung belang
Hai teman jangan sampai kita pun ketinggalan
Cepat cepat kau cari kesempatan
Di dalam kesempitan
Untuk melemaskan segala ketegangan
Oh pikiran yang bukan bukan
Suatu kali eh pernah aku kehilangan
Celana Levi’s yang semata wayang
Itu juga belinya di tukang loakan
Telah hilang melayang disamber orang
Waktu di jemuran
Oh oh oh we yo
Maling sialan
Maling maling sialan
Dia nggak pikir itu barang orang
Ada lagi maling gede gedean
Dia nekat embat duit ‘jut - ‘jutan
Dia nggak mikir itu duit haram
Inget inget dong sama gelandangan
Berani amat ente sama kutukan Tuhan
Maling yang ini memang kebangetan
Ada maling hoi maling jemuran
Di sono maling di sini maling
Maling maling hei elu sialan
Orang Gila
Waktu pulang Malam malam Sendiri Sendiri Orang gila di lampu penyeberangan Jam dua malam Lewat pada saat lampu sedang merah Tepat ditengah tengah zebra cross Irama langkahnya tidak berubah Seperti lagu lama Yang aku dengar menuju pulang Sendirian Orang gila di lampu penyeberangan Rambutnya gimbal Kumis dan jenggotnya jarang jarang Membawa gembolan Entah gombalan Atau makanan Melangkah terus lurus kedepan Melangkah terus lurus kedepan Orang gila di lampu penyeberangan Apa kabar? Siapa yang menyapa kamu diam Tersenyum tidak menangis tidak Kamu sapa siapa saja Selamat malam Selamat malam Orang gila di lampu penyeberangan Orang gila di lampu penyeberangan Melangkah terus lurus kedepan Melangkah terus lurus kedepan Kamu sapa siapa saja Selamat malam Selamat malam
Aku Berjalan Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)
Aku berjalan diatas jembatan Waktu hari siang Tengah keramaian kota Kupandang kebawah Berhimpit gubuk liar Tempat tinggal gelandangan Tampak anak kecil gundul Tenang menggaruk koreng Ditepi sungai yang kotor Diseberang sana aku melihat Seorang ibu duduk Sedang melamun Kan adakah masa depan yang cerah? Bagi orang seperti dia Kan tegakah melihat saudara kita? Hidup menderita
Pemborong Jalan Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)
Deru mesin motor jelas terdengar Mengarung jalan penuh lubang Baru kemarin selesai diaspal Terkena hujan kok jerawatan? Oh oh kasihan Bayar pajak mahal Banyak jalan Seperti comberan Pemborong berpengalaman tertawa Berteman pipa topi baja Bercanda dengan istri paling mudah Tak ingat jalan dan pekerja Oh oh kasihan Nasib pekerja jalan Tenaga hilang Gaji tidak berimbang
Bencana Alam Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)
Sekian manusia resah menatap wajah sesamanya Duka karena bencana Petaka menimpa diri dan dalam hatinya berkata Besarkah dosa hamba ? Menjelang saat ajal daku membayang Gapai tangan minta Tolong semua Bencana alam melandanya Kehendak yang kuasa Peringatan kah bagi kita ? Manusia di dunia Karena kita tlah saling cinta harta benda dan kuasa Tanpa pandang kebenaran Dan tanpa pandang keadilan Bencana alam melandanya Tiada seorangpun kuasa menekan Bencana alam melandanya Miskin kaya kana petaka yang sama Akhirnya ku merenung pula Mengapa bencana alam meraja ? Oh oh aku tak kuasa Mungkinkah kau merenung juga ? Mengapa bencana alam meraja ? Oh oh ampunilah yang kuasa Oh oh ampunilah semua
HATTA
Hatta Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981) Tuhan terlalu cepat semua Kau panggil satu satunya yang tersisa Proklamator tercinta Jujur lugu dan bijaksana Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa Rakyat Indonesia Hujan air mata dari pelosok negeri Saat melepas engkau pergi Berjuta kepala tertunduk haru Terlintas nama seorang sahabat Yang tak lepas dari namamu Terbayang baktimu Terbayang jasamu Terbayang jelas jiwa sederhanamu Bernisan bangga Berkafan doa Dari kami yang merindukan orang Sepertimu .
Doa Pengobral Dosa Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)
Disudut dekat gerbong Yang tak terpakai Perempuan ber make up tebal Dengan rokok ditangan Menunggu tamunya datang Terpisah dari ramai Berteman nyamuk nakal Dan segumpal harapan Kapankah datang Tuan berkantong tebal Habis berbatang batang Tuan belum datang Dalam hati Resah menjerit bimbang Apakah esok hari Anak anakku dapat makan Oh Tuhan beri Setetes rezeki Dalam hati yang bimbang berdoa Beri terang jalan anak hamba Kabulkanlah Tuhan
Galang Rambu Anarki Iwan Fals ( Album Opini 1982 )
Galang Rambu Anarki anakku Lahir awal Januari Menjelang pemilu Galang Rambu Anarki dengarlah Terompet tahun baru Menyambutmu Galang Rambu Anarki ingatlah Tangisan pertamamu Ditandai BBM membumbung tinggi Maafkan kedua orang tuamu kalau (Tak mampu beli susu) BBM naik tinggi (susu tak terbeli) Orang pintar tarik subsidi Mungkin bayi kurang gizi Galang Rambu Anarki anakku Cepatlah besar matahariku Menangis yang keras janganlah ragu Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku Doa kami di nadimu Galang Rambu Anarki dengarlah Terompet tahun baru Menyambutmu Galang Rambu Anarki ingatlah Tangisan pertamamu Ditandai BBM melambung tinggi Maafkan kedua orang tuamu kalau (Tak mampu beli susu) BBM naik tinggi (susu tak terbeli) Orang pintar tarik subsidi Anak kami kurang gizi Galang Rambu Anarki anakku Cepatlah besar matahariku Menangis yang keras janganlah ragu Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku Doa kami di nadimu Cepatlah besar matahariku Menangis yang keras janganlah ragu Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku Doa kami di nadimu
ancur
Iwan Fals / Aziz MS ( Album In Collaboration With 2003 ) Namamu selalu kubisiki Dalam tidurku dalam mimpiku Setiap malam Hangat tubuhmu melekat di kulitku Beribu peluk beribu cium Kita lalui Tapi kau kabur Dengan duda anak tiga Pilihan ibumu Hatiku hancur Berserakan berhamburan Kayak jeroannya binatang Ya sudah Kumenangis seadanya Sekuat tenaga Ya sudahlah Kau memang setan alas Nggak punya perasaan ANCUUU UUUR Doaku di akad nikahmu Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus Tapi kau kabur Dengan duda anak tiga Pilihan ibumu Hatiku hancur Berserakan berhamburan Kayak jeroannya binatang Ya sudah Kumenangis seadanya Sekuat tenaga Ya sudahlah Ya sudah Kumenangis seadanya Sekuat tenaga Ya sudahlah Kau memang “syaiton” alas Ndak punya perasaan ANCUUU UUUR Doaku di akad nikahmu Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus Heh heh heh heh heh
Jalan Yang Panjang Berliku Iwan Fals / Willy & Tommy ( Album Barang Antik 1984 )
Jalan panjang yang berliku Jalan lusuh dan berbatu Namun kuharus mampu menempuh Bersama beban dibatinku Kudatang berlumur debu Kupergi bersama bayu Diantara gelisah dan ragu Kucoba untuk tetap kukuh Tiadakah tempat kuberteduh Dikala luka membiru Segenggam harapan dalam jiwa Hilang punah tiada kesan Dikegelapan
Doa Pengobral Dosa Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)
Disudut dekat gerbong Yang tak terpakai Perempuan ber make up tebal Dengan rokok ditangan Menunggu tamunya datang Terpisah dari ramai Berteman nyamuk nakal Dan segumpal harapan Kapankah datang Tuan berkantong tebal Habis berbatang batang Tuan belum datang Dalam hati Resah menjerit bimbang Apakah esok hari Anak anakku dapat makan Oh Tuhan beri Setetes rezeki Dalam hati yang bimbang berdoa Beri terang jalan anak hamba Kabulkanlah Tuhan
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkerammu
Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh karisma
Pulau pulau yang berbencar
Bersatu dalam kibarmu
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Hei jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan pancasila itu
Bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan


















